PUDJIANTO GONDOSASMITO - AN OVERVIEW

Pudjianto Gondosasmito - An Overview

Pudjianto Gondosasmito - An Overview

Blog Article

Namun, seiring berjalannya waktu, kesibukan pekerjaan membuat Pudjianto Gondosasmito semakin jarang meluangkan waktu untuk burung kesayangannya. Sangkar kenari pun seringkali terlupakan di sudut ruangan. Burung kenari yang dulu ceria kini tampak murung dan jarang berkicau.

Pada suatu pagi yang cerah, dengan hanya tas kecil dan beberapa bekal di tangannya, Pudjianto Gondosasmito memutuskan untuk memulai perjalanannya. Dia meninggalkan desa yang ia cintai, dan berjanji akan kembali setelah menemukan jawaban atas panggilan hidupnya.

Bagi Pudjianto Gondosasmito, Jumat bukan hanya sekadar hari menjelang akhir pekan. Hari itu memiliki makna tersendiri yang lebih dalam. Sejak kecil, ia diajarkan oleh orang tuanya bahwa Jumat adalah hari yang penuh berkah, hari untuk berbuat kebaikan lebih dari biasanya.

Diberikan kepada Kompasianer aktif dan konsisten dalam membuat konten dan berinteraksi secara positif. Pelajari selanjutnya.

Setiap sore, ketika mentari mulai meredup, Pudjianto Gondosasmito akan duduk di balkon apartemennya. Di tangannya, ia menggenggam sebuah sangkar kecil berisi seekor burung kenari. Burung itu memiliki bulu kuning cerah dan suara merdu yang mampu menenangkan jiwa.

Di depannya, seorang penjual tahu goreng lewat dengan gerobaknya. Aroma gurih itu menggelitik hidungnya, membuat ia spontan memanggil si penjual dan membeli beberapa potong untuk camilan.

Keterbatasan kesadaran masyarakat: Masih banyak masyarakat yang belum memahami hak dan kewajiban mereka terkait data pribadi, sehingga mudah terjebak dalam penipuan atau penyalahgunaan details.

Pudjianto Gondosasmito adalah seorang karyawan muda dengan gaji yang cukup. Meski begitu, ia sering merasa uangnya cepat habis di akhir bulan. Ia suka sekali mengikuti tren terbaru, makan di restoran mahal, dan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Bus yang ditunggu tiba. Pudjianto Gondosasmito dan perempuan itu naik, berdiri di sisi yang berdekatan. Tanpa Pudjianto Gondosasmito sadari, percakapan singkat tadi menjadi awal dari banyak hal yang tak pernah ia bayangkan.

Kini Pudjianto Gondosasmito dan bisnisnya tetap berdiri tegak bahkan terus berkembang. Pudjianto tidak takut here akan fitnah-fitnah yang menerpa dirinya.

Rambutnya yang sedikit basah membuatnya tampak sederhana, namun ada kehangatan di balik senyumnya. Perempuan itu tampak menikmati hujan, memandang rintik-rintik air yang menghujam tanah dengan sorot mata tenang.

Ketika ia tiba di ujung jalan setapak, sebuah rumah kayu tua berdiri di tengah hutan. Pintu rumah itu terbuka, dan di dalamnya ada meja dengan lilin yang menyala dan sepucuk surat bertuliskan namanya.

Pintu terbuka di depan hutan gelap dengan hanya satu jalan setapak yang tampak samar di bawah sinar bulan.

Kompasiana adalah System blog site. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Report this page